~

~
by: Novi Ambarsari (vivovin)

Hot Reads

menulis adalah secangkir teh hangat. silakan diminum selagi hangat. maka dengan ini, selamatlah membaca selagi ampasnya mengendap~

Tuesday, March 7, 2017

WIMM : The Alchemist dan Paulo Coelho

Image result for alchemist novel indonesia
Add caption

WIMM #1
What's In My Mind : A Brazilian Novel, The Alchemist.


Alchemist, kata kunci yang apabila diketik di mesin pencari, langsung muncul nama seorang Brazilian, Paulo Choelho. 

Sekilas baca judulnya saya berpikir, "ini novel kimia ? atau menceritakan tentang seorang ahli kimia ?" Covernya waktu itu masih bergambar beberapa domba dan seorang yang memakai jubah putih dengan seekor elang bertengger di tangannya, juga padang pasir. Alchemy memang konon berasal dari Bangsa Egypt. 

Tapi, novel apa ini ?

Pada chapter pertama, halaman pertama, Paulo Coelho mengenalkan tokohnya yang kemudian ia ceritakan dengan sangat gamblang betapa brilian pola pikir tokohnya tersebut, padahal hanya seorang gembala domba. 

Beberapa kali si tokoh ini semacam "membanggakan" dirinya karena pada waktu itu, terutapa di daratan tempat tinggalnya, gembala jarang sekali yang bisa membaca. Si tokoh yang oleh Paulo Coelho hanya disebutkan nama nya sekali di awal cerita ini, sebenarnya adalah seorang anak yang beruntung mendapat restu dari kedua orangtuanya untuk pergi berkelana sebagai gembala domba dan terlihat betul ia berasal dari kalangan yang taat agama. 

Santiago, nama anak gembala domba itu, yang konon punya kemampuan ajaib telah mengalami berbagai peristiwa yang melibatkan jiwa. Perjalanan hidupnya adalah perjalanan mengikuti kata hati dan tentu saja, intuisi. Intuisi tajam, pemikiran yang brilian, dan keinginan yang kuat. Sempurna. Namun pernah beberapa kali ia mengalami pergolakan bathin. 

Dan sekali lagi, 

Paulo Coelho sukses menceritakan bahkan mendeskripsikan betapa briliannya si gembala muda ini terhadap peristiwa yang di alaminya. Seperti bagaimana ia jatuh cinta pertama kali pada seorang gadis saudagar, bagaimana ia bisa selamat dari keterpurukan atas kesialannya di tanah asing yang baru ia jejaki, dan bagaimana ia melahirkan kesimpulan-kesimpulan yang mencerahkan terhadap apa yang nampak dan ia rasakan selama pengembaraannya di negeri asing. 

Latar dari novel ini sangat banyak dan signifikan berbeda, pembaca akan diajak oleh Penulis untuk berkelana seperti sang gembala. Ketika menceritakan padang pasir yang sulit ditebak misalnya, saya merasa sedang berada di sana. 

Novel ini seperti novel penjelajah yang ringan untuk dibaca namun sarat akan makna untuk direnungi. 

inti dari novel ini adalah memang sebuah perjalanan mengikuti kata hati. Namun misi si tokoh utama adalah pencarian harta karun. Disinilah letak twistnya. Siapa Alchemist dan bagaimana rupanya akan dijelaskan secara lengkap di bagian ini. Lengkap dengan kebudayaan orang islam pada masanya, dan cerita perang yang mengagumkan. 

Novel ini, bagi saya, adalah salah satu referensi untuk mengolah kembali rasa. Seperti buku motivasi namun dikemas dalam cerita padang pasir dan unta-unta juga oase yang menyegarkan. 

Tak heran, novel ini menjadi salah satu novel dengan pembaca terbanyak dan dijadikan referensi atau bahan diskusi beberapa mata kuliah di universitas. 

hmm.. :) selamat membaca ! 

Friday, December 25, 2015

Perihal kecewa

Menurut saya, cara terbaik menyampaikan rasa kecewa adalah diam dan mengambil jarak.
Pada jeda yang tidak lama tapi tidak bisa dikatakan sebentar itu, biasanya saya akan meyakinkan diri sekali lagi bahwa mengecewakan dan dikecewakan adalah tanda bahwa saya, tentu saja, manusia.

Lalu  saya akan menjadi sosok pelupa yang sengaja melupakan. (Perihal melupakan, saya percaya cara ini ampuh sebagai langkah pertama untuk memaafkan-apapun).

Dan pada akhirnya, saya akan mengerti tentang kecewa dan kesalahan menaruh harapan.

Thursday, December 24, 2015

Don't Say Sorry, If ....




source : autostraddle.com

perjanjian dengan pemilik senyuman

Tuhan sengaja menciptakan sesuatu yang indah, sesuatu yang ingin kau miliki, tapi tak bisa kau jamah, apalagi menyimpannya untuk jadi milikmu sendiri. seperti senyuman hari itu. entah kamu tersenyum pada siapa, aku ingin sekali memilikinya. 

jadi, apa boleh? apa boleh aku diam-diam menanti mu tersenyum ? aku akan berdiri di kejauhan. tenang saja, ini adalah perjanjian yang aman dan percayalah padaku. aku, tidak akan mengkhianati perjanjian ini meskipun aku juga serius sekali ingin memilikinya.

baiklah, sebelum kau menyetujuinya, akan aku beritahu sesuatu. aku bisa menjadi egois dan ambisius. tapi kali ini, aku mengerti mengapa aku cukup berdiri di sini dan membiarkan senyum-senyummu tercipta dan terbang beitu saja, membumbung ke langit, menyatu dengan cahaya dan udara, dan kelak mungkin akan jatuh ke bumi lagi sebagai rintik hujan dan hinggap di dedaunan sebagai embun. 

aku telah bersiap jika suatu hari aku mengetahui ternyata aku hanyalah penikmat, kau memang dermawan telah membaginya pada semua orang. 

aku sudah mengatakan semuanya.

jadi sekarang, kau menyetujuinya ?


Tuesday, December 8, 2015

Untuk Tulisan-tulisan yang Kamu Tulis Dalam Setahun

jika boleh, jika ada kesempatan itu, pertemuan yang singkat saja. Aku ingin mengatakan bahwa aku mencintai tulisanmu. Itu saja.

dan jika aku berani mengatakannya, karena aku tidak pernah sebegitu cinta pada ramuan kata-kata, aku akan mengatakannya.

aku mencintai tulisanmu yang hangat, seperti kesederhanaan seorang bocah, tapi lebih sering seperti kejujuran fajar yang merekah pagi-pagi, sebagai dalamnya samudera tapi tidak menenggelamkan.

dan..
jika memang ada saatnya,
entah dalam peristiwa apa, aku ingin sekali mengatakannya.
dengan berani.


Melawan Perasaan Tak Bernama

Aku sering didatangi perasaan-perasaan tidak bernama. Sering pula melawan perasaan-perasaan itu. Aku, bahkan melawan diriku sendiri. Karena mungkin perlawanan diperuntukkan bagi ketidakinginan, ketidakcocokan, ketidakselarasan. Perlawanan, datang karena aku tidak mau sedang aku yang lain malah bertentangan.

Tidak.. bukan. Bukan berkepribadian ganda. Aku hanya sedang berusaha menjadi seharusnya. Karena kadang diri ini ingin sekali berlaku seinginnya, mengikuti apa yang dianggap menyenangkan padahal sebenarnya tidak terlalu membahagiakan. 

jadi semacam men-training diri sendiri. Memberikan banyak perlakuan dan memilih mana cara yang cocok. Dengan begini aku jadi tau apa kemauanku, siapa diriku, dan tidak perlu melakukan ritual-ritual test kepribadian dan lain sebagainya lagi untuk mengenal kelebihan dan kekuranganku. 

ditengah-tengah usaha untuk melatih diri itu, kadang-kadang ada perlawanan. Antara jiwa dan akal--atau yang mudah dikenal sebagai nafsu. 

Dan memang perempuan namanya kalau setiap kubik kehidupan selalu dibungkus dengan perasaan. Yang katanya punya firasat lebih tajam dari laki-laki. Yang katanya sensitif dan ingin dimengerti. Perasaan-perasaan wanita memang jarang yang tertebak sempurna apalagi terjelaskan dengan gamblang. Mungkin dia, wanita, tersenyum seolah sedang bahagia. Tapi siapalah yang tahu hatinya, pikirannya, jiwanya. Perasaan yang kadang wanita sendiri tidak tahu apa namanya. 

Termasuk aku..




Saturday, November 7, 2015

hujan pertama di bulan November #1

satu jam berlalu
aku sibuk menunggu, berkumul dengan pertanyaan-pertanyaan berisik
buat apa aku diciptakan 
sedang akhirnya hanya untuk jatuh berintik-rintik
lalu merembes dengan cepat 
menelisik retak-retak bumi
membaur bersamanya,
bercampur aduk dengan kekeringan
atau bahkan aku bisa saja menguap kembali
reinkarnasi..
kau akhirnya datang dengan jawaban yang tidak kuminta
ada misi rahasia yang sedang kita bawa
aku tak mengerti
seserius inikah hidup kita?
aku bahkan lebih suka jadi bulir di atas awan 
yang kadang menggumpal jadi kawanan abu-abu mengerikan.
jika rahasia, mengapa kau dan aku dan juga sekawanan yang sama dengan kita,
menyerang bersama
menyerbu
dengan suara berisik
kadang bikin bising
tak sempat juga memilih tanah, 
padahal aku lebih suka berenang di samudera
bertemu kawanan lain yang mirip sama
atau berenang bersama lumut kali yang khas 
atau bertabrakan dengan bebatuan basah di dasar sungai
tapi kau terus bercerita, entah dongeng atau bukan
semoga aku tak menyesal mendengarkan
tentang kekeringan dan pohon-pohon yang membakar dirinya sendiri
itu lebih mengerikan daripada lecutan cahaya di atap-atap langit
lalu kau bercerita tentang bumi yang tak bisa membedakan
mana asap mana awan
sama-sama abu-abu dan berisik
tentang rindu tanah kepada air
tentang daratan luas yang hampir lupa rasanya embun
lantas waktu itu datang juga
kita semua bersiap dan kau belum selesai bercerita
tanpa pikir panjang gerbang langit terbuka
dalam perjalanan menuju bumi aku memejam mata
aku berdoa dalam-dalam
untuk cerita-ceritamu yang belum selesai,
semoga akan ada yang meneruskannya kembali
tapi pertanyaan-pertanyaanku belum selesai terjawab
seketika tubuhku semakin berat,
jatuhku tak sekedar jatuh.
aku merasakan tarikan yang luar biasa,
mengendap di bagian dasar tubuhku
tanah kering, pohon-pohon yang membakar dirinya sendiri
ceritamu telah berhasil
retak tanah dan celah-celahnya yang gelap
aku mulai mengerti
akulah jawaban
atas pertanyaan-pertanyaan sendiri
aku lah hujan
yang turun memeluk bumi..

cari-manfaat.com

Monday, September 28, 2015

Percakapan virtual mini 1

R : kenapa ?
A : entahlah. apalah aku ini?
R : kamu? Kamu masa depanku (lalu tersenyum)
A : (diam beberapa saat. Tak berkutik)

Begitulah. Percakapan yang, sebut saja meski virtual, hangat itu mengalir dan terasa menenangkan disini, dihati. 

Dan..

Sejak rindu kusebut doa, maka semua semoga, untuknya kuberi aminku yang telaga.

source instagram.com/vivovin

Copyright © 2014 The Words World